STUDI ETNOBOTANI TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT YANG DIMANFAATKAN MASYARAKAT SUKU MELAYU KABUPATEN LINGGA PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Ufara Qasrin, Agus Setiawan, Yulianty Yulianty, Afif Bintoro

Abstract


Medicinal plants have long been used by traditional communities, one of them is the Malay people in Lingga Regency, Riau Islands Province in healing various diseases. This study aims to determine the types of medicinal plants based on local knowledge of the indigenous Malay people. The population of this research is the native Malay people of Lingga Regency and the sampling is done using the snowball sampling method so that the selected respondents are following the required data. This type of research is descriptive research with qualitative and quantitative methods. The qualitative method was used to find out the use of medicinal plants used by the community by interview while the quantitative method was used to find out the percent of the use of medicinal plants by the Malays from the interviews. Based on the results of the study there were 102 types of medicinal plants in 53 families. The most commonly used plant parts are leaves (45.10%) by boiling and the least used are seeds and bark (1.96%). The most used habitats were herbs (27.45%) and trees (26.47%) and the least used were liana (8.82%) and terna (3.92%). Diseases that are usually treated by people with plants are diseases that are commonly suffered by ordinary people such as fever, diarrhea, coughing, toothaches, itching and mouth sores.


Keywords


ethnobotany, local knowledge, Malay tribe, medicinal plants

Full Text:

PDF

References


Adnyana, M. (2012). Kajian etnobotani tanaman obat oleh masyarakat Kabupaten Bonebolango Provinsi Gorontalo. Gorontalo: FMIPA, Universitas Negeri Gorontalo.

Anonim. (2013). 100 Plus Herbal Indonesia Buku Ilmiah & Racikan. Depok: PT Trubus Swadaya.

Arizona. D. (2011). Etnobotani dan Potensi Tumbuhan Berguna di Taman Nasional Gunung Ciremai Jawa Barat. Bogor: Fakultas Kehutanan, IPB.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawas Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Fakhrozi, I. (2009). Etnobotani Masyarakat Suku Melayu Tradisionall di Sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh (Studi Kasus di Desa Rantau Langsat Kecamatan Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau). Bogor: Fakultas Kehutanan, IPB.

Farida, Y. (2012). Tanaman Obat Nusantara. Yogyakarta: Araska.

Handayani. 2003. Membelah Rahasia Ramuan Madura. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Hidayat, A.A. (2009). Metode Penelitian Kebidanan Tehnik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.

Karmilasanti, S. (2011). Keanekaragaman jenis tumbuhan obat dan pemanfaatannya di kawasan Tane’ Olen Desa Setulang Malinau, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Dipterokarpa. 5(1), 23-38.

Kartikawati, S.M., (2004). Pemanfaatan Sumberdaya Tumbuhan oleh Masyarakat Dayak Meratus di Kawasan Hutan Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Bogor: Pascasarjana IPB.

Krismawati, A. dan Sabran,M.. (2004). Pengelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Obat Spesifik Kalimantan Tengah. Buletin Plasma Nutfah, 12 (1),17-25.

Mayangsari, A., Indriyanto, Bintoro. dan Surnayanti. (2019). Identifikasi Jenis Tumbuhan Obat di Areal Garapan Petani KPPH Talang Mulya Tahura Wan Abdul Rachman. Jurnal Sylva Lestari, 7(1), 1-9.

Miranti, L. (2009). Pengaruh Konsentrasi Minyak Atsiri Kencur (Kaempferia galangan) dengan Basis Salep Larut Air terhadap Sifat Fisik Salep dan Daya Hambat Bakteri Staphylococcus aureus secara In Vitro. Surakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Nawawi, Hadari. (2006). Evaluasi dan Manajemen Kinerja di Lingkungan Perusahaan dan Industri. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nursal, Wulandari, S., Juwita, W.S. (2006). Bioaktifitas ekstrak jahe (Zingiber officinale) dalam menghambat pertumbuhan koloni bakteri Eschericia coli dan Bacillus subtilis. Jurnal Biogenesis, 2(2), 64-66.

Poerwandari, E. K. (2001). Pendeka-tan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta: Lembaga Pengembanagn Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Purwanti, Miswan dan Pitopang, R. (2017). Studi etnobotani pada proses ritual adat masyarakat Suku Saluan di Desa Pasokan Kabupaten Tojo Una-una. Jurnal Biocelebes, 11(1), 46-60.

Rijaii, L. (2011). Penentuan kriteria ilmiah potensi tumbuhan obat unggulan Kelompok Bidang Ilmu Kimia Farmasi. Jurnal Kesehatan, 1(2), 64-78.

Sabri, M. (2011). Etnobotani tumbuhan obat dalam kawasan Hutan Wisata Baning Kabupaten Sintang. Pontianak: Fakultas Kehutanan Universitas Tanjung Pura.

Sada, J.T dan Tanjung, R.H.R. (2010). Keragaman tumbuhan obat tradisional di Kampung Nansfori Distrik Supiori Utara, Kabupaten Supiori–Papua. Jurnal Biologi Papua, 2(2), 39-46.

Sari, A., Linda, S., Lovadi, I. (2015). Pemanfaatan tumbuhan obat pada masyarakat Suku Dayak Jangkang Tanjung di Desa Ribau Kecamatan Kapuas Kabupaten Sanggau. Jurnal Protobiont, 4(2), 1-8

Sastroamidjojo, S. (2001). Obat Asli Indonesia Edisi 6. Jakarta: Dian Rakyat.

Sembiring, E. F. Indriyanto dan Duryat. (2015). Keragaman jenis tumbuhan obat di Hutan Pendidikan Universitas Sumatera Utara Kawasan Taman Hutan Raya Tongkoh Kabupaten Karo Sumatera Utara. Jurnal Sylva Lestari, 3(2), 113-122.

Sukari, M.A., Mohd Sharif, A. L. C. , Yap, S. W., Tang, B. K. , Noeh, M. , Rahman, G. C. L. , Ee, Y. H. , Taufiq, Yap and Yusuf, U. K. (2008). Chemical constituents variatiosns of essential oils from rhizomes of four zingiberaceae species. The Malaysian Journal of Analytical Sciences, 12 (3), 638-644.

Supriyanto, Indriyanto dan Bintoro, A. (2014). Inventarisasi jenis tumbuhan obat di hutan mangrove Desa Margasari Kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur. Jurnal Sylva Lestari, 2(1), 67-76.

Susiarti, S. (2005). Indigenous knowledge on the uses of medicinal plants by Dayak Benuaq society, West Kutai, East Kalimantan. Journal of Tropical Ethnobiology, 2(1), 52-64.

Syaifuddin., Suryanto, E., Kurniawan, N.M.A. dan Fitriyanti, S. (2015). Etnobiologi tumbuhan hutan berkhasiat obat di Desa Mandiangin Barat Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Propinsi Kalimantan Selatan. Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru. 1(2): 1-7.

Zuhud, E, A, M. (2009). Kebijakan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika dengan Pengembangan Potensi Lokal Ethno-Forest-Pharmacy (Ethno-Wanafarma) pada Setiap Wilayah Sosial-Biologi Satu-satuan Masyarakat Kecil. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB.




DOI: https://doi.org/10.29303/jbl.v3i2.507 Abstract View: 0, PDF Download: 0

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Jurnal Belantara

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Statcounter:

Pengunjung


Indexed By :

                      



 E-ISSN 2614-3453   P-ISSN 2614-7238

  Forestry Study Program Mataram University

Jl Pendidikan No 37 Mataram- Nusa Tenggara Barat Telp. (0370)7505654  e-mail: belantara@unram.ac.id 

 

Creative Commons License
Jurnal Belantara (E-ISSN 2614-3453 P-ISSN 2614-7238) is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.